Jeneponto – Aksi damai yang digelar Solidaritas Masyarakat Desa Kareloe untuk menolak wacana pembangunan Batalyon di wilayah mereka nyaris ricuh. Penolakan itu dilatarbelakangi kekhawatiran warga akan hilangnya sumber mata pencaharian utama.
Lokasi yang direncanakan untuk pembangunan tersebut merupakan lahan pertanian yang sangat produktif. Lahan itu telah digarap secara turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi tumpuan ekonomi warga Desa Kareloe, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, rencana ini dianggap sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan hidup mereka.
Perwakilan masyarakat, Nurul Iman Rahman, menyatakan bahwa awalnya kegiatan disusun sebagai aksi damai dan mimbar bebas. Tujuannya adalah menyampaikan penolakan secara tegas agar aspirasi warga didengar, mengingat isu ini berkaitan langsung dengan keadilan sosial dan nasib banyak keluarga.
“Aksi ini awalnya murni damai sebagai bentuk penolakan keras atas wacana pembangunan Batalyon tersebut. Kami ingin menyampaikan bahwa lahan ini nyawa kami. Mengingat pentingnya isu ini bagi keadilan sosial dan masyarakat luas, kami berharap suara kami didengar,” ujar Nurul.
Namun, aksi yang dimaksudkan untuk menyampaikan aspirasi tersebut akhirnya memanas dan nyaris ricuh.

